Hitung token listrik
Perkiraan kWh dari pembelian token
| Nominal token | ||
| Biaya admin penjual | ||
| Bea meterai | ||
| PJU / PBJT tenaga listrik | ||
| Potongan lain | ||
| Nilai stroomrupiah yang benar-benar jadi listrik | ||
| Tarif per kWh | ||
| Uang yang keluar | ||
| Harga efektif per kWhuang yang keluar dibagi kWh yang masuk |
Semua potongan di atas adalah angka isian, bukan tarif resmi. Kalau berbeda dengan struk pembelian aslinya, struk aslinya yang benar.
Hitung berapa kWh yang benar-benar masuk ke meteran dari pembelian token listrik: nominal dikurangi biaya admin penjual, bea meterai, dan pungutan penerangan jalan, lalu dibagi tarif per kWh golonganmu. Semua potongannya kamu isi sendiri dari struk, dan hasilnya menyebut harga efektif per kWh yang sebenarnya kamu bayar.
Beli token Rp 100.000, yang masuk ke meteran sekitar 67 kWh, bukan Rp 100.000 dibagi tarif. Isi nominalnya, potongan yang tertulis di strukmu, dan tarif golonganmu; halaman ini menunjukkan berapa rupiah yang benar-benar jadi listrik, berapa kWh yang masuk, dan berapa harga per kWh yang sebenarnya kamu bayar.
Uang yang keluar dan nilai listriknya adalah dua angka berbeda
Ini seluruh isi pertanyaan “kok cuma segini”. Yang kamu bayar di kasir bukan yang dibagi dengan tarif. Sebelum dibagi, nominalnya dipotong biaya admin penjual, bea meterai kalau memang kena, dan pungutan penerangan jalan. Sisanya yang di struk disebut nilai stroom, dan cuma nilai stroom yang jadi kWh.
Halaman ini menuliskan tiap potongan sebagai barisnya sendiri supaya bisa disandingkan langsung dengan struk, baris demi baris. Kalau ada baris yang tidak cocok, kamu tahu persis baris yang mana, bukan cuma tahu bahwa totalnya beda.
Biaya admin: ditambahkan, atau dipotong
Dua-duanya nyata dan sama-sama lazim, dan hasilnya berbeda di kedua sisi. Kalau adminnya ditambahkan di luar nominal, kamu membayar lebih besar tapi nilai tokennya utuh. Kalau dipotong dari nominal, kamu membayar persis nominalnya tapi nilai tokennya sudah berkurang sebelum pajaknya dihitung, jadi pajaknya pun ikut mengecil.
Karena itu halaman ini menanyakannya. Cara tahunya paling gampang adalah membandingkan jumlah yang kamu bayar dengan nominal yang kamu pilih. Kalau lebih besar, adminnya di luar.
Besar biaya adminnya sendiri tidak diatur siapa pun. Tiap bank, minimarket, agen, dan dompet digital memasang angkanya sendiri, dan buat pembeli token kecil selisih seribu dua ribu itu terasa di harga per kWh-nya.
PJU ditetapkan daerahmu, bukan oleh PLN
Pungutan penerangan jalan (sejak 2024 namanya pajak barang dan jasa tertentu atas tenaga listrik) ditetapkan masing-masing pemerintah kabupaten/kota lewat perda, dengan batas atas 10% menurut UU 1/2022 tentang HKPD. Rentangnya lebar dan daerah tetangga bisa berbeda.
Karena itu persennya jadi kolom yang kamu isi, dengan 3% cuma sebagai isian awal. Angka itu bukan pernyataan bahwa daerahmu memungut 3%. Selisihnya bukan hal kecil. Untuk token 100 ribu yang sama, 2,4% dan 10% berjarak lebih dari lima kWh.
Bea meterai berubah aturannya, jadi struk lama dan struk baru bisa beda
Sejak UU 10/2020 bea meterai punya satu tarif Rp 10.000 dan hanya berlaku untuk dokumen di atas Rp 5 juta, jadi pembelian token rumahan praktis tidak kena. Struk dari sebelum aturan itu memakai skema lama: Rp 3.000 untuk pembelian di atas Rp 250.000 dan Rp 6.000 di atas Rp 1 juta.
Halaman ini tidak memilihkan salah satunya. Kolom meterainya nol sebagai isian awal, dan kalau strukmu memang memotong, isi angka yang tertulis di situ.
Harga efektif per kWh, angka yang paling berguna dibawa pulang
Selain jumlah kWh, lembar hasilnya menyebut harga efektif per kWh, yaitu seluruh uang yang keluar dibagi kWh yang masuk. Angka itu sudah menanggung admin dan pungutan, jadi ia yang paling mendekati kenyataan dompetmu.
Gunanya langsung. Masukkan angka itu sebagai tarif di Hitung biaya listrik, dan perkiraan biaya tiap alat di rumahmu jadi lebih dekat ke uang yang benar-benar keluar daripada kalau kamu memakai tarif resmi.
Angka itu juga yang menunjukkan mahalnya beli token receh. Biaya admin yang sama dipikul kWh yang jauh lebih sedikit, jadi sepuluh kali beli 20 ribu tidak pernah sama dengan sekali beli 200 ribu.
Yang halaman ini tidak bisa
Ia tidak membaca strukmu. Semua potongan di sini angka yang kamu isi sendiri, dan susunannya mengikuti urutan yang umum: meterai dulu, lalu pajak, lalu potongan lain. Sebagian penjual membulatkan di titik yang sedikit berbeda atau menghitung pajaknya dari nilai stroom, jadi selisih beberapa ratus rupiah itu normal. Cocokkan dengan struk pembelianmu; kalau berbeda, yang benar strukmu.
Ia juga tidak tahu tarif golonganmu, tidak memeriksa apakah persen PJU yang kamu isi memang persen daerahmu, dan tidak menghitung sisa kWh yang masih ada di meteran sebelum token baru dimasukkan.
Kalau yang sebenarnya kamu cari adalah berapa VA meteranmu seharusnya, bukan berapa kWh dari tokennya, mulai dari Daya listrik rumah.
Pertanyaan umum
- Kenapa token Rp 100.000 tidak jadi listrik senilai Rp 100.000?
- Karena ada tiga hal yang dipotong sebelum sisanya dibagi tarif: biaya admin penjualnya, bea meterai kalau memang kena, dan pungutan penerangan jalan yang ditetapkan pemerintah daerahmu. Yang dibagi dengan tarif per kWh cuma sisanya, dan sisa itulah yang di struk disebut nilai stroom. Jadi meteranmu tidak sedang mengurangi apa pun. Pengurangannya sudah terjadi di kasir.
- Biaya admin saya ditambahkan di luar nominal atau dipotong dari nominal?
- Lihat jumlah yang benar-benar kamu bayar. Kalau untuk token 100.000 kamu membayar 102.500, adminnya ditambahkan di luar dan nilai tokennya tetap 100.000. Kalau kamu membayar persis 100.000, adminnya dipotong dan nilai tokennya tinggal 97.500, dan pajaknya pun dihitung dari 97.500, bukan dari 100.000. Dua-duanya lazim, jadi halaman ini menanyakannya daripada menebak.
- Persen PJU di daerah saya berapa?
- Cek strukmu dulu; kalau di situ tertulis rupiah PJU-nya, bagi angka itu dengan nilai tokenmu dan kamu dapat persennya. Kalau tidak tertulis, angkanya ada di perda daerahmu. Yang pasti bukan angka nasional. Sejak 2024 pungutan ini bernama PBJT atas tenaga listrik, ditetapkan masing-masing kabupaten/kota, dan UU 1/2022 tentang HKPD memasang batas atasnya di 10%. Isian awal 3% di halaman ini sekadar angka yang sering muncul, bukan tarif daerahmu.
- Struk saya tidak ada potongan meterai, tapi struk lama saya ada.
- Aturannya memang berubah. Sejak UU 10/2020 bea meterai punya satu tarif Rp 10.000 dan hanya untuk dokumen di atas Rp 5 juta, jadi pembelian token rumahan hampir tidak pernah kena. Struk dari sebelum itu memakai aturan lama yang memotong Rp 3.000 untuk pembelian di atas Rp 250.000 dan Rp 6.000 di atas Rp 1 juta. Kolom meterai di sini defaultnya nol; isi angkanya kalau strukmu memang memotong.
- Token saya dipotong angsuran tunggakan, kolomnya yang mana?
- Pakai kolom potongan lain. Kolom itu memang untuk baris di struk yang tidak punya tempat sendiri di sini: angsuran tunggakan atau biaya penyambungan kembali yang dicicil lewat pembelian token, dan PPN yang muncul pada golongan daya besar. Potongan lain dikurangkan setelah pajaknya, jadi ia tidak mengecilkan PJU, sama seperti di struk.
- Hasil di sini selisih beberapa rupiah dari struk saya.
- Wajar, dan penyebabnya pembulatan. Halaman ini membulatkan rupiah PJU ke rupiah penuh lalu membagi sisanya dengan tarif; sistem penjualnya bisa membulatkan di titik yang sedikit berbeda, dan sebagian penjual menghitung pajaknya dari nilai stroom, bukan dari nilai token. Selisih di bawah seribu rupiah tidak perlu dikejar. Kalau selisihnya puluhan ribu, biasanya persen PJU atau tarif per kWh yang belum kamu sesuaikan.
- Kenapa harga efektif per kWh lebih mahal dari tarif yang saya isi?
- Karena harga efektif membagi seluruh uang yang keluar dari dompetmu dengan kWh yang benar-benar masuk, sedangkan tarif cuma harga listriknya saja. Selisihnya adalah admin dan pungutan, dan bagiannya makin besar kalau nominal tokennya makin kecil, karena biaya admin yang sama dipikul kWh yang lebih sedikit. Itu sebabnya membeli token 20 ribu sepuluh kali lebih mahal per kWh daripada membeli 200 ribu sekali.