Alat Gratisan

Paritta dan doa Buddha

Pilih situasi

Bacaan Doa Buddha

Lembar ini titik awal, bukan putusan keagamaan. Bacaan dan tata caranya bisa berbeda antar aliran dan antar daerah. Yang berlaku untukmu adalah yang diajarkan guru atau pemuka agamamu sendiri.

Kumpulan paritta dan perenungan harian umat Buddha beserta teks Pali dan artinya: Namakara Gatha, Tisarana, Pancasila Buddhis, Karaniya Metta Sutta, perenungan sebelum makan, dan pelimpahan jasa. Disaring per situasi dan bisa dicetak.

Paritta yang dicari sehari-hari biasanya bukan rangkaian kebaktian lengkap, melainkan satu atau dua bacaan untuk keadaan tertentu: sebelum makan, menjelang tidur, waktu menunggui yang sakit. Halaman ini menyusunnya begitu, dengan teks Pali dan artinya berdampingan.

Rumusannya Theravada, dan itu disebutkan

Di Indonesia ada Theravada, Mahayana, dan Tantrayana. Bacaan di halaman ini mengikuti rumusan Theravada seperti yang dipakai Sangha Theravada Indonesia. Membiarkan itu tidak disebut berarti menyajikan satu aliran sebagai keseluruhan agamanya, dan itu jenis kekeliruan yang tidak akan dilaporkan siapa pun karena tidak kelihatan.

Tekad, bukan permintaan

Pancasila Buddhis adalah lima tekad melatih diri, dan bentuk kalimatnya memang “aku bertekad melatih diri menghindari”, bukan “jauhkanlah aku dari”. Bedanya bukan gaya bahasa. Itu sebabnya bacaan sebelum ujian di sini adalah paritta cinta kasih, bukan permohonan nilai.

Baris tetap jadi baris

Tisarana dan Pancasila Buddhis ditulis satu tekad per baris, dan lembarnya mencetaknya begitu. Menyatukannya jadi satu paragraf akan menghilangkan bentuk yang justru dipakai waktu membacanya bersama-sama.

Kalau ada bacaan yang keliru, kabari lewat halaman kontak.

Pertanyaan umum

Ini rumusan aliran yang mana?
Theravada, dan itu disebutkan terang-terangan. Di Indonesia ada juga Mahayana dan Tantrayana di bawah naungan WALUBI, dan bacaannya sebagian berbeda serta memakai bahasa Sanskerta atau Mandarin. Menyajikan satu aliran begitu saja sebagai 'doa Buddha' akan salah untuk sebagian pembacanya, dan salahnya tidak akan mereka sadari.
Umat Buddha berdoa meminta sesuatu?
Tidak dalam bentuk permohonan kepada Buddha. Paritta adalah pembacaan yang menenangkan dan menguatkan batin, dan tekad seperti Pancasila Buddhis adalah janji pada diri sendiri, bukan permintaan. Karena itu bacaan sebelum ujian di sini bukan permohonan nilai, melainkan paritta cinta kasih; hasilnya tetap dipahami sebagai buah usaha sendiri.
Kenapa teks Pali-nya ditulis tanpa tanda diakritik?
Mengikuti bentuk yang dipakai buku paritta berbahasa Indonesia, yang menulis 'sammasambuddhassa' dan bukan 'sammāsambuddhassa'. Pali tidak punya satu aksara asli; di Indonesia ia memang ditulis dengan huruf Latin, jadi yang tampil di kolom teks asli adalah Pali beraksara Latin itu sendiri.
Namakara Gatha dibaca berapa kali?
Tiga kali, dan itu ditulis di keterangannya. Ia pembuka hampir semua pembacaan paritta. Halaman ini menuliskannya sekali beserta keterangan itu, bukan mencetaknya tiga kali di lembarnya.
Bisa dipakai untuk kebaktian di rumah?
Bisa sebagai pengingat teksnya, tapi urutan lengkap sebuah kebaktian tidak disusun di sini. Untuk itu pakai buku Paritta Suci. Yang dikerjakan halaman ini menyediakan bacaan menurut keadaan sehari-hari, dengan sumbernya, supaya bisa dicetak dan ditempel.