Alat Gratisan

Doa harian Katolik

Pilih situasi

Bacaan Doa Katolik

Lembar ini titik awal, bukan putusan keagamaan. Bacaan dan tata caranya bisa berbeda antar aliran dan antar daerah. Yang berlaku untukmu adalah yang diajarkan guru atau pemuka agamamu sendiri.

Kumpulan doa pokok Katolik beserta nomor Puji Syukur-nya: Tanda Salib, Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan, Aku Percaya, doa sebelum dan sesudah makan, doa malam, dan doa sebelum belajar. Disaring per situasi dan bisa dicetak.

Doa pokok Katolik sudah dihafal sebagian besar umat, tapi yang sering dicari justru rumusan lengkapnya — untuk mengajari anak, untuk memastikan satu baris yang terlupa, atau untuk dicetak dan ditempel. Halaman ini menuliskannya beserta nomor Puji Syukur-nya.

Nomornya ditulis supaya bisa dicocokkan

Tiap doa yang ada di Puji Syukur datang dengan nomornya. Salam Maria nomor 14, Bapa Kami nomor 5, Aku Percaya nomor 3. Yang ingin memastikan tinggal membuka bukunya di nomor itu.

Doa yang tidak punya nomor Puji Syukur — doa sebelum belajar, doa perjalanan — disebutkan apa adanya sebagai rumusan yang lazim dipakai, bukan diberi nomor karangan supaya kolomnya terisi.

Bapa Kami versi Katolik berhenti di mana

Rumusan Katolik berakhir pada “tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat”. Doksologi “Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan” yang dipakai gereja Protestan tidak termasuk di dalamnya. Kedua rumusan itu benar untuk umatnya masing-masing, dan itu sebabnya halaman ini terpisah dari doa harian Kristen.

Yang halaman ini tidak lakukan

Ia tidak menyusun tata cara ibadat, tidak menentukan doa mana yang wajib pada hari apa, dan tidak menggantikan buku Puji Syukur. Yang dikerjakannya menyediakan rumusannya beserta rujukan supaya bisa diperiksa. Kalau ada yang keliru, kabari lewat halaman kontak.

Pertanyaan umum

Rumusannya mengikuti buku apa?
Puji Syukur terbitan Konferensi Waligereja Indonesia, buku doa dan nyanyian yang dipakai Gereja Katolik di Indonesia. Nomor Puji Syukur-nya ikut ditulis di tiap doa yang ada di sana, jadi bisa dicocokkan langsung dengan bukunya — Salam Maria misalnya nomor 14.
Kenapa Bapa Kami di sini tidak ada 'Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan'?
Karena rumusan Katolik memang berhenti di 'bebaskanlah kami dari yang jahat'. Doksologi itu dipakai di gereja Protestan dan dalam Misa muncul terpisah setelah embolisme, bukan sebagai bagian dari Bapa Kami yang didoakan umat. Menyatukan keduanya jadi satu rumusan akan membuat halaman ini salah untuk salah satu pihak.
Kenapa Katolik dipisah dari Kristen Protestan?
Karena keduanya agama resmi yang berbeda di Indonesia, dan sebagian rumusannya berbeda kata per kata. Bapa Kami adalah contoh yang paling kelihatan. Kalau keduanya digabung jadi satu halaman 'Kristen', separuh pembacanya akan membaca rumusan yang bukan miliknya, dan sebagian tidak akan sadar.
Doa sebelum belajar itu ada di Puji Syukur?
Tidak sebagai rumusan baku bernomor. Yang dimuat di sini doa mohon terang Roh Kudus yang lazim dipakai di sekolah-sekolah Katolik, dan itu disebutkan apa adanya di keterangannya. Kata-katanya memang berbeda antar sekolah dan paroki; yang berlaku untukmu yang diajarkan di tempatmu.
Bisa dipakai untuk mengajari anak?
Bisa, dan itu salah satu alasan lembarnya dibuat untuk dicetak. Saring situasinya, cetak, lalu tempel. Doa-doa pokok seperti Tanda Salib, Bapa Kami, Salam Maria dan Kemuliaan ada di situasi doa harian, jadi keempatnya keluar dalam satu lembar.