Alat Gratisan

Doa harian Hindu

Pilih situasi

Bacaan Doa Hindu

Lembar ini titik awal, bukan putusan keagamaan. Bacaan dan tata caranya bisa berbeda antar aliran dan antar daerah. Yang berlaku untukmu adalah yang diajarkan guru atau pemuka agamamu sendiri.

Kumpulan mantra dan doa harian Hindu beserta aksara Dewanagari, tulisan Latin, dan artinya: Gayatri Mantram, Om Awighnam Astu, doa sebelum makan, bangun tidur, sebelum bepergian, dan Parama Santih. Disaring per situasi dan bisa dicetak.

Mantra harian Hindu banyak beredar dalam tulisan Latin saja, tanpa aksara aslinya dan tanpa keterangan asalnya. Halaman ini memuat ketiganya sekaligus: aksara Dewanagari, tulisan Latin, dan arti Indonesianya, dengan rujukan di tiap bacaan.

Gayatri Mantram, yang paling sering dicari

Gayatri Mantram berasal dari Rgveda III.62.10 dan juga menjadi bait pertama Puja Tri Sandhya. Ia yang paling sering dipakai anak sekolah sebelum belajar, dan yang paling sering ditulis keliru karena disalin dari salinan.

Untuk mohon ilmu, mantra pemujaan Dewi Saraswati dipakai pada hari raya Saraswati dan lazim juga sebelum ujian.

Tri Sandhya tidak dipotong-potong di sini

Tri Sandhya adalah rangkaian sembahyang, bukan daftar doa lepas. Memuat keenam baitnya sebagai kumpulan mantra terpisah akan menyajikannya sebagai sesuatu yang bukan dirinya. Jadi yang diambil hanya bait yang memang berdiri sendiri sebagai doa, dan itu disebutkan.

Yang tidak diputuskan di sini

Ketentuan waktu, syarat, dan tata cara sembahyang tidak dijawab halaman ini. Perbedaan praktik antar daerah dan antar tradisi juga tidak diseragamkan. Kalau ada bacaan yang keliru, kabari lewat halaman kontak.

Pertanyaan umum

Ini Puja Tri Sandhya lengkap?
Bukan, dan itu disengaja. Tri Sandhya adalah rangkaian sembahyang tiga waktu dengan urutan dan waktunya sendiri, bukan kumpulan doa lepas. Yang dimuat di sini bait yang memang berdiri sendiri sebagai doa — Gayatri Mantram sebagai bait pertama, dan Parama Santih sebagai penutup. Untuk sembahyang Tri Sandhya utuh, pakai buku puja, bukan halaman ini.
Kenapa tulisan Latinnya tanpa tanda garis dan titik seperti di buku akademis?
Karena yang memakai halaman ini biasanya sedang menuntun anaknya sembahyang, bukan sedang menulis makalah. Bentuk 'dhimahi' lebih dikenali daripada 'dhīmahi' di buku pelajaran agama Hindu di sekolah Indonesia. Aksara Dewanagari-nya tetap ditampilkan untuk yang membacanya.
Gayatri Mantram boleh dibaca kapan saja?
Halaman ini tidak menjawab itu, dan sengaja. Ketentuan waktu dan syarat pembacaan sebuah mantram adalah perkara yang diajarkan pandita dan berbeda antar tradisi. Yang disediakan di sini teksnya beserta rujukannya; kapan dan bagaimana membacanya, tanyakan kepada pandita atau guru agamamu.
Kenapa sumbernya kadang Weda kadang buku puja?
Karena asalnya memang berbeda. Gayatri Mantram berasal dari Rgveda III.62.10 dan itu ditulis apa adanya. Sebagian mantra harian seperti doa memulai pekerjaan lebih tepat dirujuk ke buku puja yang dibakukan Parisada Hindu Dharma Indonesia. Menyeragamkan keduanya jadi satu jenis rujukan akan menyembunyikan bedanya.
Bisa dicetak untuk ditempel di merajan atau kamar anak?
Bisa. Saring situasinya lebih dulu supaya yang tercetak cuma yang kamu perlukan, lalu cetak atau simpan sebagai gambar. Aksara Dewanagari-nya sengaja dicetak lebih besar dari teks lain, karena aksara non-Latin lebih cepat kehilangan bentuknya waktu tinta printernya menipis.