Alat Gratisan

Kalender puasa sunnah

Bulannya
Yang mau dicantumkan

Tanggal Hijriahnya dihitung dengan kalender Umm al-Qura — hisab tabular, bukan rukyat. Awal bulan di Indonesia ditetapkan lewat rukyat dan sidang isbat, jadi tanggal Ayyamul Bidh di sini bisa bergeser satu hari. Senin dan Kamis tidak terpengaruh perkara itu.

TanggalHariHijriahKeterangan

Daftar hari puasa sunnah dalam satu bulan: Senin, Kamis, dan Ayyamul Bidh 13, 14, 15 Hijriah, lengkap dengan tanggal Masehi dan Hijriahnya. Idulfitri, Iduladha, dan hari tasyrik ikut ditandai sebagai hari yang justru tidak boleh dipuasai, beserta alasannya, lalu lembarnya bisa langsung dicetak.

Pilih bulannya, dan halaman ini mendaftar hari puasa sunnah yang berulang di dalamnya: Senin dan Kamis, serta Ayyamul Bidh, yaitu tanggal 13, 14, dan 15 Hijriah. Tanggal Masehi, nama hari, dan tanggal Hijriahnya ditulis berdampingan, lalu bisa langsung dicetak atau ditempel.

Ada hari yang justru tidak boleh dipuasai

Ini alasan utama daftar seperti ini tidak boleh sekadar “setiap Senin dan Kamis”.

Idulfitri dan Iduladha tidak dipuasai, begitu pula tiga hari tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah. Ketiganya jatuh persis di tengah pola yang berulang, dan akibatnya bisa dihitung. Karena Ayyamul Bidh selalu tanggal 13, 14, 15, maka setiap tahun satu dari tiga Ayyamul Bidh di bulan Zulhijah bertabrakan dengan hari tasyrik.

Barisnya tetap dicetak, ditandai, dengan alasannya di kolom keterangan. Menghapusnya diam-diam akan membuat kamu mengira lembar ini kurang sehari, lalu tahun depan mengetik sendiri “13, 14, 15” dari ingatan. Untuk penggantinya, sebagian ulama menganjurkan tanggal 16 Zulhijah dan sebagian lain cukup meninggalkan hari itu; halaman ini menyebut keduanya dan tidak memilihkan.

Hari yang jatuh di dalam Ramadan juga ditandai, sebagai puasa yang sudah wajib. Angkanya benar dan sebutannya tetap perlu dibetulkan.

Hisab dan rukyat bisa berbeda sehari

Tanggal Hijriah di sini dihitung dengan hisab tabular Umm al-Qura yang sudah tertanam di HP atau komputer yang kamu pakai. Sementara awal bulan Hijriah di Indonesia ditetapkan lewat rukyat dan sidang isbat, dan organisasi yang berbeda bisa memakai kriteria yang berbeda. Selisih satu hari adalah hal yang biasa.

Pergeseran itu hanya mengenai Ayyamul Bidh, karena tanggalnya mengikuti bulan Hijriah. Senin dan Kamis tidak terpengaruh sama sekali. Jadi kalau kalender masjid di dekat rumahmu berbeda sehari, yang perlu digeser cuma tiga baris.

Satu hal yang sering terlewat adalah hari Hijriah berganti saat magrib, bukan tengah malam. Tanggal Masehi di lembar ini adalah hari kamu berpuasa, dari fajar sampai magrib hari itu. Kalau kamu ingin memeriksa satu tanggal saja secara terpisah, ada konversi Masehi–Hijriah tersendiri, dengan umur bulan Hijriahnya sekalian.

Bulan Masehi tidak sejajar dengan bulan Hijriah

Yang kamu pilih adalah bulan Masehi, sedangkan Ayyamul Bidh mengikuti bulan Hijriah yang panjangnya 29 atau 30 hari. Akibatnya satu bulan Masehi tidak selalu memuat tepat tiga Ayyamul Bidh: kadang dua, karena satunya jatuh di akhir bulan sebelumnya, dan kadang empat karena bersambung dengan bulan Hijriah berikutnya.

Lembar hasilnya menuliskan rentang Hijriah bulan itu di bagian atas (misalnya 18 Safar sampai 18 Rabiulawal) supaya kelihatan bulan Hijriah mana saja yang sedang kamu lihat, dan kamu tahu perlu mengecek bulan sebelah atau tidak.

Yang tidak ada di sini

Puasa Asyura, Tasua, Arafah, enam hari di bulan Syawal, dan puasa Daud tidak didaftar. Semuanya punya aturan waktunya sendiri dan tidak berulang dengan pola yang sama, sementara yang dijanjikan lembar ini hanya pola yang benar-benar bisa dipastikan dari tanggal: pekanan dan bulanan.

Halaman ini juga tidak menghitung qadha puasamu dan tidak tahu berapa hari yang kamu tinggalkan. Kalau ada hari yang memang sudah tidak bisa diqadha karena sakit menahun atau usia, takarannya dihitung terpisah di kalkulator fidyah.

Semua ini dipakai untuk perencanaan: menyiapkan sahur, mengatur jadwal kerja, atau menempel daftar di lemari es. Untuk memastikan tanggal ibadah, ikuti pengumuman masjid atau organisasi di tempatmu. Peringatan itu ikut tercetak di lembarnya, supaya tidak hilang saat lembarnya berpindah tangan.

Pertanyaan umum

Kenapa ada tanggal Ayyamul Bidh yang ditandai tidak boleh dipuasai?
Karena tanggal itu jatuh di hari tasyrik. Tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah adalah hari makan dan minum yang tidak dipuasai, sementara Ayyamul Bidh selalu tanggal 13, 14, dan 15. Jadi setiap tahun, tanpa kecuali, satu dari tiga Ayyamul Bidh di bulan Zulhijah bertabrakan dengan hari tasyrik. Barisnya tetap dicetak beserta alasannya, bukan dihapus diam-diam, supaya kamu tidak mengira lembar ini yang keliru. Sebagian ulama menganjurkan menggantinya dengan tanggal 16 Zulhijah, sebagian lain cukup meninggalkan hari itu. Ulama membahas satu pengecualian, yaitu jemaah haji tamatu' yang tidak mendapat hadyu, dan itu punya ketentuan tersendiri.
Tanggal Ayyamul Bidh di sini beda sehari dengan kalender masjid saya. Yang benar mana?
Dua-duanya bisa benar menurut caranya masing-masing, dan halaman ini bukan pemenangnya. Kolom Hijriah di sini dihitung dengan hisab tabular Umm al-Qura yang sudah tersedia di HP atau komputer yang kamu pakai, sedangkan awal bulan di Indonesia ditetapkan lewat rukyat dan sidang isbat, dan organisasi yang berbeda bisa memakai kriteria yang berbeda. Selisih satu hari itu biasa. Yang terpengaruh cuma Ayyamul Bidh, karena tanggalnya mengikuti bulan Hijriah. Senin dan Kamis tidak bergeser oleh perkara ini sama sekali. Untuk urusan ibadah, ikuti pengumuman yang berlaku di tempatmu.
Kok bulan ini Ayyamul Bidh-nya cuma dua hari?
Karena bulan Masehi tidak sejajar dengan bulan Hijriah, dan yang kamu pilih adalah bulan Masehi. Tanggal 13, 14, 15 Hijriah bisa terpotong di ujung bulan. Dua harinya jatuh di awal bulan Masehi ini dan satunya di akhir bulan lalu. Kadang malah sebaliknya, satu bulan Masehi memuat lebih dari tiga karena tersambung dengan bulan Hijriah berikutnya. Kalau daftarnya terasa kurang, cek juga bulan sebelum atau sesudahnya. Lembarnya tidak salah hitung.
Bagaimana dengan Senin dan Kamis yang jatuh di bulan Ramadan?
Tetap ditulis, tapi ditandai sebagai puasa wajib, bukan sunnah. Di dalam Ramadan kamu memang berpuasa setiap hari, jadi tidak ada puasa Senin–Kamis atau Ayyamul Bidh yang berdiri sendiri di sana. Lembar ini menandainya supaya jumlah hari puasa sunnahnya tidak ikut menghitung hari Ramadan, dan supaya lembar yang ditempel di dinding tidak menyebut hari wajib sebagai sunnah. Setelah Ramadan berakhir, polanya kembali seperti biasa.
Ayyamul Bidh-nya jatuh hari Jumat sendirian, boleh?
Boleh. Yang dibicarakan ulama adalah mengkhususkan puasa pada hari Jumat saja tanpa sebab, sedangkan Ayyamul Bidh datang karena tanggalnya, bukan karena hari Jumatnya, dan biasanya berangkai dengan dua hari sebelum atau sesudahnya. Kalau kamu tetap ingin berhati-hati, cukup gandeng dengan Kamis atau Sabtunya. Lembar ini menuliskan nama harinya di kolom tersendiri supaya keadaan seperti ini kelihatan sebelum kamu berniat.
Puasa Asyura, Arafah, dan enam hari Syawal ada di sini?
Tidak, dan itu batasan yang disengaja. Yang didaftar di sini hanya puasa sunnah yang berulang setiap pekan dan setiap bulan, yaitu Senin, Kamis, dan Ayyamul Bidh, sehingga satu lembar bisa dipakai untuk bulan apa pun. Puasa Asyura, Arafah, Tasua, enam hari di bulan Syawal, dan puasa Daud punya aturan waktunya sendiri dan tidak berulang dengan pola yang sama, jadi memasukkannya akan membuat lembar ini menjanjikan lebih daripada yang benar-benar bisa dipastikan dari perhitungan tanggal.
Perlu internet supaya tanggalnya keluar?
Tidak, setelah halamannya terbuka. Konversi tanggalnya dikerjakan di HP atau komputermu sendiri memakai kalender Hijriah yang sudah ada di dalamnya. Tidak ada tanggal yang dikirim ke mana pun. Kalau HP atau komputer yang kamu pakai kebetulan tidak punya kalender Umm al-Qura, halaman ini memilih berkata tidak bisa daripada mencetak kolom Hijriah yang diam-diam berisi tanggal Masehi.