Alat Gratisan

Konsinyasi titip jual

Yang menyetujui
Potongan toko

Potongan ini cuma dikenakan ke unit yang terjual. Barang yang kembali tidak dipotong apa pun, karena tidak pernah jadi uang buat siapa-siapa.

Barang yang dititipkan
Nama barangHarga jualTitipTerjualKembali

Titip adalah jumlah yang diserahkan di awal periode, kembali adalah yang diambil lagi di akhir. Kalau titip tidak sama dengan terjual + kembali, selisihnya ditulis di lembar setoran beserta nilainya — bukan dipotong diam-diam dari salah satu pihak.

LEMBAR SETORAN KONSINYASI

Toko / penjualPeriode
PemasokTanggal

BarangTitipTerjualKembaliPenjualanPotonganUntuk pemasok
Jumlah

Dibayarkan ke pemasok

Diserahkan oleh toko
Diterima oleh pemasok

Hitung bagi hasil titip jual. Potongan toko cuma kena ke unit yang terjual, bukan ke seluruh titipan. Hasilnya lembar setoran yang bisa dipegang pemasok dan toko sekaligus, berisi jumlah titip, terjual, kembali, selisih yang belum ketemu, dan uang yang harus dibayarkan.

Konsinyasi itu titip jual. Barangmu ada di toko orang, tapi masih milikmu sampai laku. Yang dihitung di sini cuma satu hal, dan justru itu yang paling sering salah. Potongan toko cuma kena ke unit yang terjual, bukan ke seluruh titipan. Hasilnya satu lembar setoran yang dipegang dua pihak.

Potongan dihitung dari yang laku, bukan dari yang dititipkan

40 bungkus dititipkan, 27 laku, harga 25.000, potongan toko 30%:

  • Dari yang terjual: 27 × 25.000 = 675.000, potongan 202.500, pemasok terima 472.500
  • Dari seluruh titipan: 40 × 7.500 = 300.000 potongan, dan 13 bungkus yang pulang utuh ikut dipotong

Selisihnya 97.500 dari satu periode yang sama. Angka kedua tidak pernah ditulis siapa-siapa sebagai kesepakatan, tapi sering muncul karena orang mengalikan potongan dengan jumlah titipan waktu menghitung cepat di kepala. Karena itu lembar setorannya menulis titip, terjual, dan kembali di kolom terpisah: perkaliannya bisa diperiksa ulang oleh yang menerima, bukan cuma diumumkan totalnya.

Titip harus sama dengan terjual + kembali

Ini baris yang paling sering diributkan, dan hampir selalu ditemukan berminggu-minggu setelah barangnya hilang. Kalau 40 dititipkan, 27 laku, dan cuma 11 yang kembali, ada 2 unit yang tidak ada di kolom mana pun.

Halaman ini menulis selisih itu per barang beserta nilai rupiahnya, lalu berhenti di situ. Angkanya tidak dikurangkan dari pembayaran, karena siapa yang menanggung barang hilang adalah isi perjanjian kalian, bukan hasil perkalian. Halaman yang memotongnya diam-diam sedang memihak salah satu pihak dengan cara yang tidak kelihatan.

Yang bisa kamu lakukan adalah menghitung fisik bareng waktu serah terima, lalu menandatangani lembarnya setelah selisihnya nol atau setelah kalian sepakat siapa yang menanggung.

Persen atau nominal per unit

Keduanya sah dan keduanya dipakai. Bedanya baru terasa waktu harga berubah. Potongan persen ikut naik bersama harga, potongan nominal tidak. Untuk barang yang harganya bergerak (makanan segar, barang impor), perbedaan itu jadi sumber ribut di periode ketiga atau keempat, bukan di awal.

Apa pun bentuknya, lembar setoran ini menulis dua-duanya: potongan per unit dalam rupiah, dan persentase efektifnya terhadap penjualan. Jadi tawaran “potongan 20%” dari satu toko dan “potongan 5.000 per botol” dari toko lain bisa dibandingkan tanpa menghitung ulang di kertas lain.

Yang lembar ini tidak putuskan

Kapan uangnya dibayar, siapa yang menanggung barang rusak, dan berapa lama titipan berlaku semuanya isi kesepakatan, bukan hitungan. Yang ada di lembar ini adalah angkanya dan dasar angkanya: potongan yang disepakati, jumlah unit, dan tanda tangan dua pihak.

Pajak juga tidak dihitung. Yang keluar adalah nilai sebelum pajak apa pun. Kalau kamu memang memungut PPN atas penjualannya, hitung terpisah di hitung PPN dan tanyakan perlakuannya ke konsultan pajak, karena konsinyasi punya dua transaksi yang perlakuannya berbeda.

Sebelum menyepakati potongannya, ada baiknya kamu tahu dulu berapa modal per unitmu di hitung HPP. Potongan 30% terdengar wajar sampai ketahuan marginmu memang 25%. Untuk penjualan harian di tokomu sendiri, yang dibutuhkan pembeli adalah nota penjualan, bukan lembar ini. Dan kalau bentuk kerja samanya bukan titip barang melainkan patungan modal, yang kamu cari adalah bagi hasil patungan.

Pertanyaan umum

Potongan tokonya dihitung dari barang yang dititipkan atau yang terjual?
Dari yang terjual, dan itu bukan pilihan di halaman ini. Barang yang kembali tidak pernah jadi uang buat siapa pun, jadi tidak ada yang bisa dipotong darinya. Bedanya besar. Ambil 40 bungkus dititipkan, 27 laku, harga 25.000, potongan 30%. Dihitung dari yang terjual, potongannya 202.500. Dihitung dari seluruh titipan, 300.000, dan selisih 97.500 itu dibayar pemasok untuk barang yang pulang lagi ke dia dalam keadaan utuh.
Titip 40, terjual 27, kembali 11. Sisa 2 itu ke mana?
Itu justru yang paling penting muncul di lembarnya, dan halaman ini menulisnya sebagai selisih beserta nilai rupiahnya, bukan mendiamkannya. Dua unit itu bisa hilang, rusak lalu dibuang, dimakan sendiri, atau memang salah hitung waktu serah terima. Yang tidak dilakukan halaman ini adalah memotongnya dari pembayaran, karena siapa yang menanggung barang hilang itu isi kesepakatan kalian, bukan hasil perkalian. Yang disediakan cuma angkanya, supaya dibicarakan sebelum lembarnya ditandatangani.
Potongan persen atau nominal per unit, sebaiknya yang mana?
Dua-duanya dipakai, dan yang membedakan adalah siapa yang menanggung perubahan harga. Persen ikut naik kalau harga naik, jadi toko otomatis kebagian dari kenaikan itu. Nominal per unit tidak ikut naik, jadi kenaikan harga sepenuhnya jadi bagian pemasok. Enak buat pemasok waktu harga naik, dan berat buat toko. Untuk barang yang harganya sering berubah seperti makanan segar, nominal per unit lebih sering bikin ribut. Lembar setorannya menulis persentase efektifnya juga, jadi dua tawaran dari dua toko bisa dibandingkan walau bentuknya beda.
Harga jualnya diisi harga dari pemasok atau harga di rak toko?
Harga di rak, yaitu harga yang benar-benar dibayar pembeli, karena itu yang jadi dasar potongan. Kalau tokonya menaikkan harga sendiri di atas harga yang kamu tentukan, itu jual putus, bukan konsinyasi, dan yang perlu disepakati adalah harga belinya. Isi harga rak yang disepakati bersama, dan tulis harga itu di lembar setorannya supaya tidak berubah diam-diam periode depan.
Barang yang rusak, kedaluwarsa, atau hilang di toko, siapa yang tanggung?
Halaman ini tidak memutuskan, dan sengaja. Di praktiknya ada tiga kesepakatan yang sama-sama umum: risiko di pemasok (barang rusak dianggap kembali), risiko di toko (dianggap terjual dan tetap dibayar), atau ditanggung berdua. Kalau risikonya di toko, masukkan barang itu ke kolom terjual sesuai kesepakatan. Kalau di pemasok, masukkan ke kembali. Yang penting bukan halaman ini yang memilihkan. Yang penting kalian sudah memilih sebelum barangnya rusak.
Pajaknya bagaimana?
Tidak dihitung di sini, dan angka yang keluar adalah nilai sebelum pajak apa pun. Konsinyasi punya dua transaksi yang orang sering campur: penjualan ke pembeli akhir, dan jasa penjualan yang ditagihkan toko ke pemasok. Perlakuan pajaknya tergantung status kedua pihak, apakah pengusaha kena pajak atau bukan, dan pakai skema apa. Untuk angka yang benar, tanyakan ke konsultan pajak atau petugas di KPP tempat usahamu terdaftar; jangan pakai lembar ini sebagai dasar pelaporan.
Kalau saya titip barang ke banyak toko sekaligus?
Buat satu lembar per toko, karena potongan, periode, dan jumlah titipannya berbeda-beda dan yang menandatangani juga orang yang berbeda. Nomor dan periodenya kamu tulis sendiri di kolom periode. Halaman ini menyimpan nama barang dan harganya di perangkatmu untuk pengisian berikutnya, tapi tidak menyimpan jumlahnya. Periode baru harus dihitung fisik lagi, dan lembar yang terbuka dengan angka bulan lalu adalah lembar yang ditandatangani tanpa dihitung ulang.