Laba rugi sederhana
Ringkasan laba rugi
| % dari pendapatan |
|---|
Ringkasan untuk keperluan pemilik usaha sendiri. Untuk lampiran pajak atau laporan yang diaudit, angkanya disusun akuntan. Laba usaha di atas belum dikurangi pajak dan bunga pinjaman, dan penyusutan alat ikut terhitung hanya kalau ditulis sebagai salah satu baris biaya.
Isi pendapatan, harga pokok penjualan, dan biaya operasional per kategori; halaman ini memisahkan laba kotor dari laba usaha, menghitung margin keduanya dari total pendapatan, dan menunjukkan kelompok biaya mana yang paling banyak memakan uang. Hasilnya satu lembar rapi yang bisa langsung dicetak.
Isi pendapatan, harga pokok penjualan, dan biaya operasionalnya, lalu halaman ini menyusun satu lembar laba rugi: laba kotor, laba usaha, dan margin keduanya terhadap pendapatan. Biaya dikelompokkan menurut kategori yang kamu tulis sendiri, diurutkan dari yang paling besar, supaya kelihatan mana yang benar-benar menghabiskan uang.
Dua laba, dua pertanyaan yang berbeda
Kata “untung” dipakai untuk dua angka yang sama sekali berbeda, dan itu sumber kebingungan yang paling mahal di warung mana pun.
Laba kotor adalah pendapatan dikurangi harga pokok barang yang terjual. Ia menjawab: harga jualku sudah cukup tinggi belum? Kalau margin kotornya tipis, tidak ada penghematan listrik yang bisa menolong. Yang harus diperbaiki adalah harga atau biaya bahannya.
Laba usaha adalah sisanya setelah semua biaya menjalankan usaha ikut dipotong. Ia menjawab: usaha ini hidup atau tidak. Toko dengan laba kotor 31,5 juta bisa menyisakan 8,1 juta saja, dan jarak sebesar itu adalah alasan lembar ini menaruh dua baris laba, bukan satu.
Kalau harga pokok per produkmu sendiri belum pernah dihitung sampai ke bahan dan kemasannya, mulai dari hitung HPP dulu. Angka yang kamu masukkan ke lembar ini akan sekuat asal angkanya.
HPP yang salah tempat tidak mengubah laba usaha
Ini jebakan yang paling lama tidak ketahuan. Kalau belanja bahan baku kamu tulis di biaya operasional dan bukan di HPP, laba usahanya tetap benar — uangnya toh keluar juga, cuma lewat kolom lain. Yang rusak adalah laba kotornya, yang jadi melambung, dan margin kotor itulah yang dipakai orang untuk menentukan harga jual.
Aturan pemisahannya sederhana: kalau biayanya baru muncul karena ada barang yang terjual, itu HPP. Kalau biayanya tetap keluar walaupun sehari tidak ada pembeli sama sekali, itu biaya operasional. Sewa kios dan gaji kasir selalu masuk kelompok kedua.
Yang belum dikurangi dari angka ini
Laba usaha di lembar ini belum dipotong pajak dan belum dipotong bunga pinjaman. Untuk usaha kecil yang memakai tarif final, dasar hitungannya adalah peredaran bruto dan bukan laba, jadi angkanya tidak bisa diambil dari lembar ini. Hitung terpisah di PPh final UMKM.
Penyusutan aset juga tidak masuk sendiri. Kalau kamu punya etalase, motor, atau mesin yang dibeli sekali dan dipakai bertahun-tahun, biaya tahunannya harus kamu tulis sebagai salah satu baris biaya operasional, kalau tidak lembar ini akan menyebut labamu lebih besar daripada yang bertahan lama.
Dan laba bukan uang. Laba usaha yang bagus bisa berbarengan dengan laci yang kosong, karena piutang dan stok yang menumpuk sama-sama menyerap uang tanpa mengurangi laba. Yang menjawab uangnya ke mana adalah arus kas bulanan, dan dua lembar itu memang dibaca berpasangan.
Ini ringkasan untuk pemilik, bukan laporan yang diaudit
Terus terang saja soal batasnya. Yang keluar dari sini adalah ringkasan manajemen, angka yang kamu ketik sendiri, disusun rapi supaya bisa dibaca dan dibandingkan bulan ke bulan. Ia bukan laporan keuangan yang disusun menurut standar akuntansi, bukan lampiran SPT, dan tidak punya bukti transaksi di belakangnya. Kalimat itu ikut tercetak di lembarnya, supaya siapa pun yang menerimanya tahu persis sedang memegang apa.
Kalau yang kamu cari justru berapa banyak yang harus terjual supaya semua biaya tetap tertutup, itu pertanyaan lain lagi dan ada halaman sendiri untuknya: kalkulator BEP.
Pertanyaan umum
- Bedanya laba kotor dan laba usaha apa?
- Laba kotor adalah pendapatan dikurangi harga pokok barang yang terjual saja, dan itu menjawab satu pertanyaan: harga jualmu sudah cukup tinggi atau belum. Laba usaha adalah laba kotor dikurangi semua biaya menjalankan usaha (gaji, sewa, listrik, iklan), dan itu menjawab pertanyaan yang lain: usahanya hidup atau tidak. Toko dengan laba kotor 31 juta bisa menyisakan 8 juta saja, dan jarak antara dua angka itulah yang membuat orang merasa jualannya laris tapi uangnya tidak pernah ada.
- Gaji saya sendiri sebagai pemilik ditaruh di mana?
- Kalau kamu memang menggaji diri sendiri dengan jumlah tetap tiap bulan, tulis di biaya operasional dengan kategori gaji, sama seperti karyawan. Kalau yang kamu lakukan adalah mengambil uang seadanya waktu butuh, itu bukan biaya melainkan prive (pengambilan atas laba), dan jangan dimasukkan ke sini, karena laba usahanya akan terlihat lebih kecil daripada yang dihasilkan usahanya. Yang mana pun kamu pilih, pilih satu dan pakai terus, supaya bulan ini bisa dibandingkan dengan bulan lalu.
- Cicilan bank tiap bulan masuk biaya operasional?
- Cuma bunganya. Pokok pinjaman bukan biaya. Ia mengurangi utangmu, bukan labamu, jadi kalau seluruh angsuran dimasukkan, labanya jadi lebih kecil dari yang sebenarnya. Bunganya sendiri sebenarnya di luar laba usaha, jadi kalau kamu ingin angka laba usaha yang bersih, tulis bunga sebagai baris tersendiri supaya gampang dikeluarkan lagi waktu dibandingkan dengan bulan lain.
- Laba usahanya besar, tapi uang di rekening tidak ada. Salah hitung?
- Belum tentu salah. Laba tidak sama dengan uang. Penjualan yang barangnya sudah dikirim tapi belum dibayar tetap dihitung sebagai pendapatan di sini kalau kamu mencatatnya begitu, sementara uangnya masih di tangan pembeli. Belanja stok yang menumpuk di gudang juga menghabiskan uang tanpa muncul di lembar ini sampai barangnya terjual. Yang menjawab pertanyaan uangnya ke mana adalah catatan kas, bukan laporan laba rugi.
- Bisa dipakai untuk lapor pajak atau mengajukan pinjaman?
- Sebagai bahan, bisa. Sebagai laporan resmi, tidak. Lembar ini ringkasan yang kamu susun sendiri dari angka yang kamu ketik; ia tidak mengikuti standar akuntansi, tidak diperiksa siapa pun, dan tidak punya bukti transaksi di belakangnya. Bank dan koperasi umumnya minta mutasi rekening, dan kantor pajak punya formatnya sendiri. Bawa lembar ini untuk menjelaskan usahamu, jangan untuk menggantikan dokumen yang mereka minta.
- Kenapa kolom persennya jadi strip semua?
- Karena pendapatan periode itu nol, dan semua persen di lembar ini dihitung dari total pendapatan. Kalau pembaginya nol, tidak ada persen yang bisa dihitung, dan menulis 0% akan membuat bulan tanpa jualan terbaca seperti bulan yang jualannya tidak untung, padahal itu dua keadaan yang jauh berbeda. Angka rupiahnya tetap keluar seperti biasa.
- Penjualan yang belum dibayar pembeli dimasukkan?
- Terserah kamu, asal konsisten. Kalau kamu hitung saat barang dikirim, semua bulan harus begitu; kalau kamu hitung saat uangnya masuk, semua bulan juga harus begitu. Yang merusak adalah menggabungkan keduanya, bulan ini pakai yang dikirim dan bulan depan pakai yang dibayar, karena perbandingan antar bulannya jadi tidak berarti apa-apa. Untuk warung yang jualannya tunai, dua cara itu memang sama saja.
- Kategori biayanya harus dari daftar yang ada?
- Tidak. Daftar yang muncul cuma saran; kolomnya bisa kamu isi apa saja, misalnya "Bahan bakar motor" atau "Iuran pasar". Yang penting satu nama dipakai konsisten, karena baris dengan tulisan berbeda akan jadi kelompok yang berbeda. Tulisan "Listrik" dan "listrik dan air" tidak akan digabung. Baris yang kategorinya dikosongkan tetap ikut dihitung, cuma dikumpulkan di kelompok tersendiri.